Minggu, 25 Oktober 2015

harapan kecil

Hidup di dunia ini seperti prmukaan bumi yang naik turun, kata sebagian orang kalau kita sudah dewasa kita harus bisa mandiri, mandi sendiri, melakukan segalanya sendiri bahkan jauh dari orang tua

Terkadang aku dikatakan sebagai orang yg kuat dan  sabar namun entar kenapa malam ini serasa ingin menangis sembari mendengar satu persatu lagu di dalam hp, apa ada yang salah masak cowok nangis bagiku itu bukanlah masalah karena setiap orang punya perasaan.

Hidup jauh dari kedua orang tua adalah sebuah perjalanan hidup yg harus di jalani sebagai serang mahasiswa, rindu akan kedua orang tua dan keluarga itulah yang kurasakan malam ini sekitar jam 2 malam gak bisa tidur karena teringat bapak dan ibu, walaupun diberikan uang cukup, komunikasi via telpon lancar, pacar sering nemenin, tapi tetap terasa masih ada yg kurang

Sudah 1 tahun lebih ku tidak pernah pulang ke sulawesi, bagaimanapun kuatnya rinddu ingin bertatap muka secara langsung itu pati ada, ingin jumpa dengan bapak dan ibu, sandainya jika  ada rejeki karena aku gak bisa pulang ku harap bapak atau ibu mau mengunjungiku ke pulau dewata ini  walau hanya sekejap karena ku tau biaya untuk ke pulau dewata itu tidaklah sedikit.

Kamis, 08 Oktober 2015

Menerima diri



Hidup merupakan sebuah kesempatan yang sangat berharga yang di berikan oleh tuhan, tidak ada kehidupan yang selalu menyenangkan pastinya memiliki ritme dalam perjalanannya, hari demi hari selalu berubah dan cerita hari ini tidak sama dengan cerita esok serta kemarin, masalah baik buruk hari esok tergantung bagaimana cara kita mengarahkannya,

Inilah saya apa adanya yang harus selalu di syukuri, terlahir dalam sebuah keluarga seorang pendidik apalagi dalam bidang kerohanian membuat segala sesuatu yang saya lakukan berdasarkan aturan serta tatanan yang berlalu baik di keluarga maupun di keluarga, setiap orang berbeda dan memiliki karakternya sendiri itu adalah sebuah realita yang selalu saya yakini dan di tekankan oleh kedu orang tua

Terkadang saya merasa dalam beberapa hal dengan teman-teman yang lain, dulu masalah terbesar yang paling sering membuat emosi adalah ketika di ejek ataupun di panggil ngondek, bencong banci atau apalah tapi seiring perjalanan waktu hal tersebuta mulai menjadi angin berlalu seperti pribahasa anjing menggonggong kapila berlalu.

Saya sadar akan kekurangan yang saya miliki, yang membuat saya tetap kuat adalah orang tua, saudara dan sahabat, saya adalah tipe anak penurut, dimana dalam keluarga tidak pernah diajarkan berkata kasar apalagi berprilaku buruk, banyak hal yang sering di ingatkan oleh orang tua diantaranya jangan merokok, minum minuman keras, keluar malam dan sebagainya, apalagi berkelahi itu adalah hal yang tidak pernah saya lakukan bahkan saya tidak tau sensasi mukul orang seperti apa , karena mengingat pesan dari orang tua tanpa sadar sedikit demi sedikit membangun kepribadian yang disebut orang ngondek itu,

Kedua orang tua tidak pernah mengajarkan yang namanya marah, seringkali apabila marah ataupun kecewa semuanya di pendam itu pesan kedua orang tua,

Hari demi hari sering tersirat di pikiran mengenai perkataan orang terhadap saya, saya sadar merubah bisa tapi secara permanen membutuhkan waktu yang lama bahkan mustahil, tapi saya menerima keadaan saya apa adanya.

Pernah suatu hari sebuah pertanyaan saya lontarkan kepada orang tua dan saudara pada saat kumpul keluarga yaitu “apa bapak, ibu apa kalian tidak malu mempunya anak seperti saya, banyak yang mengatakan kalau saya…..” Pertanyaan itu di jawab oleh bapak dan ibu dengan iti yang sama yaitu “untuk apa kami malu, kamu adalah anak kami, tidak usa mendengan perkataan orang, bagaimana kamu dan seperti apa kamu, bapak dan ibu malahan bersyukur punya anak yang mau mendengarkan perkataan orang tuanya , itu adalah hal yang paling penting bagi orang tua, di luar sana banyak anak yang tidak mau mendengarkan perkataan orang tua, dan seringkali membuat kecewa dan sangat malu kedua orang tuanya” masih panjang lagi penjelasan dari bapak dan ibu begitupun dengan keluarga yang lain.

Jawaban mereka membuat saya semakin semangat menjalani hari-hari heeeeee,….

Kalau di pikir-pikir jawaban kedua orang tua saya ada benarnya juga, diluar sana banyak anak yang tidak menuruti perkataan orang tuanya dan bahkan mempermalukan orang tua mereka di mata masyarakat, saya sadar kalau saya sedikit…….. Tapi walaupun demikian saya bersyukur dengan apa adanya diri saya.

Bagaimanapun kita, itu adalah kehendak tuhan dan kita harus menerima diri kita apa adanya, jangan pernah menyesali keadaan kita, perkataan buruk orang adalah pemicu semangat dalam menjalani hidup, hidup harus dijalani sebaik-baiknya, orang bilang takdir tidak dapat di ubah tapi takdir bisa kira arahkan kearah yang lebih baik, itu semua tergantung bagaimana cara kita menjalaninya.

Anak guru agama




Sesuai dengan judul blog ini kali ini saya ingin bercerita sedikit mengenai hidup sebagai anak dari seorang guru agama

Guru siapa yang tidak tau adalah orang yang yang mengabdikan dirinya dengan membuat orang lain menjadi pandai, begitu pula dengan guru agama malahan pandangan masyarakat terhadap guru agama bias dikatakan lebih karena bertugas mengajarkan kebaikan, budi pekerti, tingkah laku yang baik dan sebagainya.

Nah disitulah letak hal-hal yang harus di perhatikan, saya memiliki banyak teman yang juga anak dari guru baik itu guru umum maupun guru agama, dimana kami dari kecil diajarkan serta di didik dalam hal berperilaku, berbicara dan sebagainya,

Namun seiring perjalanan waktu banyak dari kami mulai berubah, kata orang semakin kita besar maka segala tingkah laku kita menjadi lebih baik, menurut saya tidak semuanya seperti itu, kenyataannya berbanding terbalik dengan apa yang dikatakan orang, teman saya banyak yang mulai mengecewakan orang tuanya dengan perubahan sikap mereka dimaman teman-teman yang pada saat kecilnya selalu juara dalam kegiatan keagamaan dan orang tuanya terkenal dengan pendidikan agama yang tinggi dalam keluarga, tapi pada akhirnya dia berubah menjadi pembuat kerusuhan, berandalan dan sering membawa berita tidak baik di telinga, sehingga membuat kecewa banyak pihak terutama orang tua dan keluarga.

Kalau di pikir ngapain ngomongin orang aja ya heeee,… 

Kalau saya pribadi biasa saja, ni kata orang ya bukan kata saya pribadi,

Kalau tetangga dan masyarakat lain bilangnya saya anaknya rajin, baik dll, bukannya nyombongkan diri tapi memang itu kenyataannya, coba pikir bagaimna tidak seperti itu, bapak saya sebagai guru agama selalu mengajarkan nilai agama dan praktek dalam kehidupan sehari bukan hanya sekedar teori, dan yang paling penting diajarkan sadar diri, bersyukur, dan sabar. Pesan dari kedua orang tua yang penting nurut nasehat kedua orang tua saling menghormati dan tenggang rasa.

Sadar tak sadar sebagai anak guru apalagi guru agama memiliki banyak aturan dan hal-hal yang harus di jaga serta di perhatikan bahkan terkadang sering merasa terikat tanpa tali oleh status orang tua dan status sebagai anak guru, tapi dari semua hal yang di alami muncul kesadaran bahwa harus bisa menjaga tingkah laku demi menjaga nama baik orang tua. Karena apabila tidak sadar lingkungan  serta mamahami situasi maka akan terjadi penyimpangan tingkah laku kearah negative  yang pada akhirnya menyebabkan penyesaan dan kekecewaan,

Haloooo ingat penyesalan selalu datang di belakang, kalau di awal namanya pendaftaran,.
Jadi sebelum penyesalan itu muncul maka perlu adanya rasa sadar diri,…. 

Rabu, 07 Oktober 2015

Mulai dari Awal


Sekedar bercerita tentang kisah kami yaitu aku, orang tua , saudara dan keluarga, kedua orang tuaku memiliki pekerjaan sebagai guru bahkan kakak dan paman semuanya adalah guru kecuali tanteku, semua orang sering memandang lebih karena pekerjaan orang tuaku adalah guru, padahal sama saja dengan orang lain mungkin kedengaran sombong tapi itu hanya kedengarannya saja padahal kenyataannya sama saja dengan masyarakat biasa. bahkan kalau di pikir banyak pekerjaan yg lebih sukses di bandingkan pegawai negeri
Bapak seorang guru agama dan ibu seorang guru TK yang bersetatus honorer semenjak aku kelas 5 SD, enak ya,... jadi anak pegawai negeri.. itu kata-kata yang sering saya dengar dari teman dan orang-orang diluar sana, tapi hanya senyum yang dapat saya gunakan untuk membalasnya karena senyum dapat menutupi semua kenyataan yang sebenarnya apakah itu sedih, senang dan sebagainya, realitanya tidak semua pegawai negeri itu dapat dikategorikan sukses, kita tidak pernah tau dasar mereka sebelum menjadi pegawai negeri baik dari segi finansial maupun pengetahuan lainnya,
Ya,... kalau keluarga saya semuanya berawal dari nol,kedua orang tua saya sangat suka menceritakan kisah masa lalunya pada aku dan kakaku walaupun membosankan serta berulang tapi kami tetap senang mendengarkannya.kisah semua dari cerita ke dua orang tua, bapak menjadi pegawai negeri berawal dari hobinya merantau keliling Indonesia, dan akhirnya terhenti di tempat sekarang dia menjadi guru yaitu Sulawesi, berawal dari mengikuti kegiatan penyetaraan pendidikan di sana dan kemudian mendapat lowongan pengangkatan menjadi guru dan lowongan menjadi suami dari ibu . cie ehem,... ehem,....
Bermodalkan tekad itulah yang digunakan oleh kedua orang tua untuk membesarka aku dan kakakku karena bermodalkan merantau kedua orang tuaku sudah menjadi mandiri sejak dulu dan tidak tergantung pada kakek dan nenek, maklum latar belakang kedua pasang kakek serta nenek berasal dari keluarga tak mampu dengan kehidupan ekonomi pas-pasan makanya kedua orang tuaku sampai merantau.
melalui cerita mereka kami belajar, bahwa semua yang kami miliki sekarang patut kami syukuri karena sudah dapat dikatakan cukup, sudah lebih di bandingkan kehidupan orang tua kamu dulunya baik dari segi tempat tinggal dan yang lainnya.
Ada banyak hal yang sering membuat saya merasa iri pada orang lain, sempat tersirat dalam pikiran, mengapa saya tidak bisa memiliki ataupun diberikan sesuatu seperti yang dimiliki orang lain, tapi saya sadar bahwa semua yang kami miliki sekarang semua mulai dari nol, tidak seperti orang lain yang tinggal melanjutkan sesuatu yang telah ada, kedua orang tuaku membangun rumah yang kami tempati sekarang semua berasal dari pinjaman bank, dengan pemotongan gajih bapak sebagai pegawai negeri, jadi tidak semua pegawai negeri itu katanya makmur,.....
Kalau di ingat termasuk bagaimana ya mengatakan kehidupan ku sebagai anak pegawai negeri, kalau mau minta sesuatu kepada orang tua tidak pernah berani, dan pokoknya tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata, sesuatu yang paling sering di ajarkan oleh kedua orang tua adalah merasakan sebuah proses dari awal sampai akhir, dimana sebuah usaha itu penting dalam memperoleh sesuatu dari awal. namum walaupun demikian ku sadar bahwa hidupku itu sudah sangat baik karna kita tidak seharusnya selalu memandang ke atas dan harus lebih sering memandang ke bawah sebagai penyemangat dalam menjalankan apa yang kita lakukan, karena yang kita perlukan dalam hidup ini adalah kita bisa memahami apa yang ada di sekitar kita.