Hidup di dunia ini seperti prmukaan bumi yang naik turun, kata sebagian orang kalau kita sudah dewasa kita harus bisa mandiri, mandi sendiri, melakukan segalanya sendiri bahkan jauh dari orang tua
Terkadang aku dikatakan sebagai orang yg kuat dan sabar namun entar kenapa malam ini serasa ingin menangis sembari mendengar satu persatu lagu di dalam hp, apa ada yang salah masak cowok nangis bagiku itu bukanlah masalah karena setiap orang punya perasaan.
Hidup jauh dari kedua orang tua adalah sebuah perjalanan hidup yg harus di jalani sebagai serang mahasiswa, rindu akan kedua orang tua dan keluarga itulah yang kurasakan malam ini sekitar jam 2 malam gak bisa tidur karena teringat bapak dan ibu, walaupun diberikan uang cukup, komunikasi via telpon lancar, pacar sering nemenin, tapi tetap terasa masih ada yg kurang
Sudah 1 tahun lebih ku tidak pernah pulang ke sulawesi, bagaimanapun kuatnya rinddu ingin bertatap muka secara langsung itu pati ada, ingin jumpa dengan bapak dan ibu, sandainya jika ada rejeki karena aku gak bisa pulang ku harap bapak atau ibu mau mengunjungiku ke pulau dewata ini walau hanya sekejap karena ku tau biaya untuk ke pulau dewata itu tidaklah sedikit.
Minggu, 25 Oktober 2015
Kamis, 08 Oktober 2015
Menerima diri
Hidup merupakan sebuah kesempatan yang sangat
berharga yang di berikan oleh tuhan, tidak ada kehidupan yang selalu
menyenangkan pastinya memiliki ritme dalam perjalanannya, hari demi hari selalu
berubah dan cerita hari ini tidak sama dengan cerita esok serta kemarin,
masalah baik buruk hari esok tergantung bagaimana cara kita mengarahkannya,
Inilah saya apa adanya yang harus selalu di syukuri,
terlahir dalam sebuah keluarga seorang pendidik apalagi dalam bidang kerohanian
membuat segala sesuatu yang saya lakukan berdasarkan aturan serta tatanan yang
berlalu baik di keluarga maupun di keluarga, setiap orang berbeda dan memiliki
karakternya sendiri itu adalah sebuah realita yang selalu saya yakini dan di
tekankan oleh kedu orang tua
Terkadang saya merasa dalam beberapa hal dengan
teman-teman yang lain, dulu masalah terbesar yang paling sering membuat emosi
adalah ketika di ejek ataupun di panggil ngondek, bencong banci atau apalah
tapi seiring perjalanan waktu hal tersebuta mulai menjadi angin berlalu seperti
pribahasa anjing menggonggong kapila berlalu.
Saya sadar akan kekurangan yang saya miliki, yang
membuat saya tetap kuat adalah orang tua, saudara dan sahabat, saya adalah tipe
anak penurut, dimana dalam keluarga tidak pernah diajarkan berkata kasar apalagi
berprilaku buruk, banyak hal yang sering di ingatkan oleh orang tua diantaranya
jangan merokok, minum minuman keras, keluar malam dan sebagainya, apalagi
berkelahi itu adalah hal yang tidak pernah saya lakukan bahkan saya tidak tau
sensasi mukul orang seperti apa , karena mengingat pesan dari orang tua tanpa
sadar sedikit demi sedikit membangun kepribadian yang disebut orang ngondek
itu,
Kedua orang tua tidak pernah mengajarkan yang
namanya marah, seringkali apabila marah ataupun kecewa semuanya di pendam itu
pesan kedua orang tua,
Hari demi hari sering tersirat di pikiran mengenai
perkataan orang terhadap saya, saya sadar merubah bisa tapi secara permanen
membutuhkan waktu yang lama bahkan mustahil, tapi saya menerima keadaan saya
apa adanya.
Pernah suatu hari sebuah pertanyaan saya lontarkan
kepada orang tua dan saudara pada saat kumpul keluarga yaitu “apa bapak, ibu apa kalian tidak malu
mempunya anak seperti saya, banyak yang mengatakan kalau saya…..”
Pertanyaan itu di jawab oleh bapak dan ibu dengan iti yang sama yaitu “untuk apa kami malu, kamu adalah anak kami,
tidak usa mendengan perkataan orang, bagaimana kamu dan seperti apa kamu, bapak
dan ibu malahan bersyukur punya anak yang mau mendengarkan perkataan orang
tuanya , itu adalah hal yang paling penting bagi orang tua, di luar sana banyak
anak yang tidak mau mendengarkan perkataan orang tua, dan seringkali membuat
kecewa dan sangat malu kedua orang tuanya” masih panjang lagi penjelasan
dari bapak dan ibu begitupun dengan keluarga yang lain.
Jawaban mereka membuat saya semakin semangat
menjalani hari-hari heeeeee,….
Kalau di pikir-pikir jawaban kedua orang tua saya
ada benarnya juga, diluar sana banyak anak yang tidak menuruti perkataan orang
tuanya dan bahkan mempermalukan orang tua mereka di mata masyarakat, saya sadar
kalau saya sedikit…….. Tapi walaupun demikian saya bersyukur dengan apa adanya
diri saya.
Bagaimanapun kita, itu adalah kehendak tuhan dan
kita harus menerima diri kita apa adanya, jangan pernah menyesali keadaan kita,
perkataan buruk orang adalah pemicu semangat dalam menjalani hidup, hidup harus
dijalani sebaik-baiknya, orang bilang takdir tidak dapat di ubah tapi takdir
bisa kira arahkan kearah yang lebih baik, itu semua tergantung bagaimana cara
kita menjalaninya.
Anak guru agama
Sesuai dengan judul blog ini kali ini saya ingin
bercerita sedikit mengenai hidup sebagai anak dari seorang guru agama
Guru siapa yang tidak tau adalah orang yang yang
mengabdikan dirinya dengan membuat orang lain menjadi pandai, begitu pula
dengan guru agama malahan pandangan masyarakat terhadap guru agama bias
dikatakan lebih karena bertugas mengajarkan kebaikan, budi pekerti, tingkah
laku yang baik dan sebagainya.
Nah disitulah letak hal-hal yang harus di
perhatikan, saya memiliki banyak teman yang juga anak dari guru baik itu guru
umum maupun guru agama, dimana kami dari kecil diajarkan serta di didik dalam
hal berperilaku, berbicara dan sebagainya,
Namun seiring perjalanan waktu banyak dari kami
mulai berubah, kata orang semakin kita besar maka segala tingkah laku kita
menjadi lebih baik, menurut saya tidak semuanya seperti itu, kenyataannya
berbanding terbalik dengan apa yang dikatakan orang, teman saya banyak yang
mulai mengecewakan orang tuanya dengan perubahan sikap mereka dimaman
teman-teman yang pada saat kecilnya selalu juara dalam kegiatan keagamaan dan
orang tuanya terkenal dengan pendidikan agama yang tinggi dalam keluarga, tapi
pada akhirnya dia berubah menjadi pembuat kerusuhan, berandalan dan sering
membawa berita tidak baik di telinga, sehingga membuat kecewa banyak pihak
terutama orang tua dan keluarga.
Kalau
di pikir ngapain ngomongin orang aja ya heeee,…
Kalau saya pribadi biasa saja, ni kata orang ya
bukan kata saya pribadi,
Kalau tetangga dan masyarakat lain bilangnya saya
anaknya rajin, baik dll, bukannya nyombongkan diri tapi memang itu
kenyataannya, coba pikir bagaimna tidak seperti itu, bapak saya sebagai guru
agama selalu mengajarkan nilai agama dan praktek dalam kehidupan sehari bukan
hanya sekedar teori, dan yang paling penting diajarkan sadar diri, bersyukur,
dan sabar. Pesan dari kedua orang tua yang penting nurut nasehat kedua orang
tua saling menghormati dan tenggang rasa.
Sadar tak sadar sebagai anak guru apalagi guru agama
memiliki banyak aturan dan hal-hal yang harus di jaga serta di perhatikan bahkan
terkadang sering merasa terikat tanpa tali oleh status orang tua dan status
sebagai anak guru, tapi dari semua hal yang di alami muncul kesadaran bahwa
harus bisa menjaga tingkah laku demi menjaga nama baik orang tua. Karena
apabila tidak sadar lingkungan serta
mamahami situasi maka akan terjadi penyimpangan tingkah laku kearah negative yang pada akhirnya menyebabkan penyesaan dan
kekecewaan,
Haloooo ingat penyesalan selalu datang di belakang,
kalau di awal namanya pendaftaran,.
Jadi sebelum penyesalan itu muncul maka perlu adanya
rasa sadar diri,….
Rabu, 07 Oktober 2015
Mulai dari Awal
Sekedar bercerita tentang kisah
kami yaitu aku, orang tua , saudara dan keluarga, kedua orang tuaku memiliki
pekerjaan sebagai guru bahkan kakak dan paman semuanya adalah guru kecuali
tanteku, semua orang sering memandang lebih karena pekerjaan orang tuaku adalah
guru, padahal sama saja dengan orang lain mungkin kedengaran sombong tapi itu
hanya kedengarannya saja padahal kenyataannya sama saja dengan masyarakat
biasa. bahkan kalau di pikir banyak pekerjaan yg lebih sukses di bandingkan
pegawai negeri
Bapak seorang guru agama dan ibu
seorang guru TK yang bersetatus honorer semenjak aku kelas 5 SD, enak ya,...
jadi anak pegawai negeri.. itu kata-kata yang sering saya dengar dari teman dan
orang-orang diluar sana, tapi hanya senyum yang dapat saya gunakan untuk
membalasnya karena senyum dapat menutupi semua kenyataan yang sebenarnya apakah
itu sedih, senang dan sebagainya, realitanya tidak semua pegawai negeri itu
dapat dikategorikan sukses, kita tidak pernah tau dasar mereka sebelum menjadi
pegawai negeri baik dari segi finansial maupun pengetahuan lainnya,
Ya,... kalau keluarga saya
semuanya berawal dari nol,kedua orang tua saya sangat suka menceritakan kisah
masa lalunya pada aku dan kakaku walaupun membosankan serta berulang tapi kami
tetap senang mendengarkannya.kisah semua dari cerita ke dua orang tua, bapak
menjadi pegawai negeri berawal dari hobinya merantau keliling Indonesia, dan
akhirnya terhenti di tempat sekarang dia menjadi guru yaitu Sulawesi, berawal
dari mengikuti kegiatan penyetaraan pendidikan di sana dan kemudian mendapat
lowongan pengangkatan menjadi guru dan lowongan menjadi suami dari ibu . cie
ehem,... ehem,....
Bermodalkan tekad itulah yang
digunakan oleh kedua orang tua untuk membesarka aku dan kakakku karena
bermodalkan merantau kedua orang tuaku sudah menjadi mandiri sejak dulu dan
tidak tergantung pada kakek dan nenek, maklum latar belakang kedua pasang kakek
serta nenek berasal dari keluarga tak mampu dengan kehidupan ekonomi pas-pasan
makanya kedua orang tuaku sampai merantau.
melalui cerita mereka kami
belajar, bahwa semua yang kami miliki sekarang patut kami syukuri karena sudah
dapat dikatakan cukup, sudah lebih di bandingkan kehidupan orang tua kamu
dulunya baik dari segi tempat tinggal dan yang lainnya.
Ada banyak hal yang sering
membuat saya merasa iri pada orang lain, sempat tersirat dalam pikiran, mengapa
saya tidak bisa memiliki ataupun diberikan sesuatu seperti yang dimiliki orang
lain, tapi saya sadar bahwa semua yang kami miliki sekarang semua mulai dari
nol, tidak seperti orang lain yang tinggal melanjutkan sesuatu yang telah ada,
kedua orang tuaku membangun rumah yang kami tempati sekarang semua berasal dari
pinjaman bank, dengan pemotongan gajih bapak sebagai pegawai negeri, jadi tidak
semua pegawai negeri itu katanya makmur,.....
Kalau di ingat termasuk
bagaimana ya mengatakan kehidupan ku sebagai anak pegawai negeri, kalau mau
minta sesuatu kepada orang tua tidak pernah berani, dan pokoknya tidak bisa di
jelaskan dengan kata-kata, sesuatu yang paling sering di ajarkan oleh kedua
orang tua adalah merasakan sebuah proses dari awal sampai akhir, dimana sebuah
usaha itu penting dalam memperoleh sesuatu dari awal. namum walaupun demikian
ku sadar bahwa hidupku itu sudah sangat baik karna kita tidak seharusnya selalu
memandang ke atas dan harus lebih sering memandang ke bawah sebagai penyemangat
dalam menjalankan apa yang kita lakukan, karena yang kita perlukan dalam hidup
ini adalah kita bisa memahami apa yang ada di sekitar kita.
Langganan:
Postingan (Atom)