Kamis, 08 Oktober 2015

Menerima diri



Hidup merupakan sebuah kesempatan yang sangat berharga yang di berikan oleh tuhan, tidak ada kehidupan yang selalu menyenangkan pastinya memiliki ritme dalam perjalanannya, hari demi hari selalu berubah dan cerita hari ini tidak sama dengan cerita esok serta kemarin, masalah baik buruk hari esok tergantung bagaimana cara kita mengarahkannya,

Inilah saya apa adanya yang harus selalu di syukuri, terlahir dalam sebuah keluarga seorang pendidik apalagi dalam bidang kerohanian membuat segala sesuatu yang saya lakukan berdasarkan aturan serta tatanan yang berlalu baik di keluarga maupun di keluarga, setiap orang berbeda dan memiliki karakternya sendiri itu adalah sebuah realita yang selalu saya yakini dan di tekankan oleh kedu orang tua

Terkadang saya merasa dalam beberapa hal dengan teman-teman yang lain, dulu masalah terbesar yang paling sering membuat emosi adalah ketika di ejek ataupun di panggil ngondek, bencong banci atau apalah tapi seiring perjalanan waktu hal tersebuta mulai menjadi angin berlalu seperti pribahasa anjing menggonggong kapila berlalu.

Saya sadar akan kekurangan yang saya miliki, yang membuat saya tetap kuat adalah orang tua, saudara dan sahabat, saya adalah tipe anak penurut, dimana dalam keluarga tidak pernah diajarkan berkata kasar apalagi berprilaku buruk, banyak hal yang sering di ingatkan oleh orang tua diantaranya jangan merokok, minum minuman keras, keluar malam dan sebagainya, apalagi berkelahi itu adalah hal yang tidak pernah saya lakukan bahkan saya tidak tau sensasi mukul orang seperti apa , karena mengingat pesan dari orang tua tanpa sadar sedikit demi sedikit membangun kepribadian yang disebut orang ngondek itu,

Kedua orang tua tidak pernah mengajarkan yang namanya marah, seringkali apabila marah ataupun kecewa semuanya di pendam itu pesan kedua orang tua,

Hari demi hari sering tersirat di pikiran mengenai perkataan orang terhadap saya, saya sadar merubah bisa tapi secara permanen membutuhkan waktu yang lama bahkan mustahil, tapi saya menerima keadaan saya apa adanya.

Pernah suatu hari sebuah pertanyaan saya lontarkan kepada orang tua dan saudara pada saat kumpul keluarga yaitu “apa bapak, ibu apa kalian tidak malu mempunya anak seperti saya, banyak yang mengatakan kalau saya…..” Pertanyaan itu di jawab oleh bapak dan ibu dengan iti yang sama yaitu “untuk apa kami malu, kamu adalah anak kami, tidak usa mendengan perkataan orang, bagaimana kamu dan seperti apa kamu, bapak dan ibu malahan bersyukur punya anak yang mau mendengarkan perkataan orang tuanya , itu adalah hal yang paling penting bagi orang tua, di luar sana banyak anak yang tidak mau mendengarkan perkataan orang tua, dan seringkali membuat kecewa dan sangat malu kedua orang tuanya” masih panjang lagi penjelasan dari bapak dan ibu begitupun dengan keluarga yang lain.

Jawaban mereka membuat saya semakin semangat menjalani hari-hari heeeeee,….

Kalau di pikir-pikir jawaban kedua orang tua saya ada benarnya juga, diluar sana banyak anak yang tidak menuruti perkataan orang tuanya dan bahkan mempermalukan orang tua mereka di mata masyarakat, saya sadar kalau saya sedikit…….. Tapi walaupun demikian saya bersyukur dengan apa adanya diri saya.

Bagaimanapun kita, itu adalah kehendak tuhan dan kita harus menerima diri kita apa adanya, jangan pernah menyesali keadaan kita, perkataan buruk orang adalah pemicu semangat dalam menjalani hidup, hidup harus dijalani sebaik-baiknya, orang bilang takdir tidak dapat di ubah tapi takdir bisa kira arahkan kearah yang lebih baik, itu semua tergantung bagaimana cara kita menjalaninya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar